Menelusuri Jejak Sejarah Mantan Bupati Sleman

Berikan penilaian Anda untuk meningkatkan pelayanan kami

Sleman – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman melalui Tim Kerja Pengelolaan Arsip Statis melaksanakan kegiatan penelusuran arsip dan wawancara sejarah lisan mengenai Bupati Sleman pertama pasca kemerdekaan, KRT Pringgodiningrat, pada Rabu, 8 Juli 2026. Kegiatan ini berlangsung di kediaman RM Suryo Putro di Komplek Colombo, Caturtunggal, Depok, Sleman. Kegiatan tersebut dipimpin oleh Kepala Bidang Pembinaan dan Pengelolaan Kearsipan bersama arsiparis Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman. Wawancara sejarah lisan dilakukan dengan RM Suryo Putro yang merupakan cucu sekaligus ahli waris KRT Pringgodiningrat. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penyelamatan arsip statis serta pelestarian memori kolektif mengenai sejarah pemerintahan Kabupaten Sleman.

Dalam wawancara, RM Suryo Putro menyampaikan berbagai informasi mengenai latar belakang keluarga, perjalanan hidup, serta kiprah KRT Pringgodiningrat. Diketahui bahwa KRT Pringgodiningrat memiliki nama kecil RM Yasir, lahir sekitar tahun 1899 dan wafat pada 21 Mei 1969. Beliau pernah menjabat sebagai Bupati Gunungkidul, Bupati Kulon Progo, dan menjadi Bupati Sleman pertama setelah Indonesia merdeka pada periode 1945–1947. Selain dikenal sebagai pemimpin pemerintahan, KRT Pringgodiningrat juga memiliki prestasi sebagai atlet lari dan sepak bola pada masanya.

Dalam penuturan sejarah tersebut juga dijelaskan berbagai kebijakan yang dilakukan KRT Pringgodiningrat selama memimpin Kabupaten Sleman. Salah satunya adalah pemindahan pusat pemerintahan dari Mlati ke Ambarukmo. Beliau dikenal sebagai sosok pemimpin yang mengedepankan penyelesaian masalah dengan mencari solusi terbaik bagi masyarakat. Informasi-informasi tersebut menjadi bagian penting dalam memperkaya khazanah arsip sejarah pemerintahan Kabupaten Sleman. RM Suryo Putro juga menyampaikan harapannya agar nilai-nilai kepemimpinan KRT Pringgodiningrat tetap menjadi teladan bagi generasi muda. Menurutnya, seorang pemimpin harus mampu melayani masyarakat, memberikan solusi atas berbagai persoalan, serta terus menjaga semangat perjuangan, budaya, dan jati diri Kabupaten Sleman.

Pada hari kedua, melaksanakan kegiatan penelusuran arsip dan wawancara sejarah lisan mengenai Bupati Sleman periode 1959–1974, KRT Murdodiningrat, pada Kamis, 9 Juli 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan di rumah peninggalan KRT Murdodiningrat yang berlokasi di Komplek Colombo Nomor 35, Caturtunggal, Depok, Sleman, dengan narasumber Dr. Apt. Mimiek Murrukmihadi, S.U. selaku putri sekaligus ahli waris KRT Murdodiningrat. Kegiatan penelusuran arsip ini merupakan bagian dari upaya penyelamatan arsip statis dan pelestarian memori kolektif daerah melalui penggalian informasi sejarah langsung dari keluarga mantan pejabat Kabupaten Sleman. Dalam wawancara, narasumber menyampaikan berbagai informasi mengenai riwayat hidup, perjalanan karier, hingga nilai-nilai kepemimpinan yang diwariskan oleh KRT Murdodiningrat.

Dr. Apt. Mimiek Murrukmihadi menjelaskan bahwa KRT Murdodiningrat, yang memiliki nama kecil Moetrisno, merupakan putra Bupati Gunungkidul dan Bupati Bantul. Beliau mengawali pengabdiannya di pemerintahan dari tingkat kapanewon sebelum dipercaya menjadi Bupati Sleman pada tahun 1959. Selama masa kepemimpinannya, KRT Murdodiningrat dikenal sebagai sosok yang berdedikasi tinggi dalam membangun Kabupaten Sleman. Salah satu tonggak penting kepemimpinan KRT Murdodiningrat adalah pemindahan pusat pemerintahan Kabupaten Sleman dari Ambarukmo ke Beran pada tahun 1964. Kawasan Beran yang saat ini menjadi kompleks perkantoran Pemerintah Kabupaten Sleman, termasuk Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman, bermula dari kebijakan strategis tersebut. Narasumber juga menyampaikan bahwa sejumlah arsip foto bersejarah mengenai pelantikan dan pemindahan pusat pemerintahan telah tersimpan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman sebagai bagian dari khazanah arsip daerah.

Selain mengulas perjalanan pemerintahan, wawancara juga menggambarkan sosok KRT Murdodiningrat sebagai pemimpin yang sederhana, disiplin, jujur, dan dekat dengan masyarakat. Selama menjabat, beliau dikenal tidak pernah menggunakan pengawalan protokoler saat melakukan kunjungan kerja ke desa-desa. Bahkan ketika menerima kendaraan dinas dari pemerintah pusat, beliau mengambil dan mengemudikannya sendiri menuju Yogyakarta. Nilai-nilai kejujuran, kerja keras, kedisiplinan, serta pentingnya pendidikan dan agama menjadi prinsip yang selalu ditanamkan kepada keluarga maupun masyarakat.

Melalui kegiatan ini, narasumber berharap informasi yang disampaikan dapat memperkaya khazanah arsip sejarah Kabupaten Sleman sekaligus menjadi sumber pembelajaran bagi generasi mendatang. Wawancara sejarah lisan diakhiri dengan dokumentasi bersama dan pembahasan rencana tindak lanjut berupa alih media terhadap arsip-arsip yang masih dimiliki keluarga guna mendukung pelestarian arsip dan meningkatkan akses terhadap informasi sejarah.

Berikan penilaian Anda untuk meningkatkan pelayanan kami

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*