Wabah virus pandemi ini, membuat semua aktivitas kebiasaan sehari-sehari semua dilakukan secara mandiri dan online. Belajar dilakukan dirumah, kerja dilakukan dirumah. Tapi kegiatan belajar di perpustakaan, membaca buku, dan bermain di perpustakaan, praktis tidak bisa dilakukan secara rutin seperti sebelum pandemi.
Saat Literasi di rumah (LDR) menjadi bagian kepedulian Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Sleman untuk mengisi “kekosongan” selama wabah pandemi bagi masyarakat yang terus melakukan aktivitas di rumah. Perpustakaan DPK Kabupaten Sleman dengan segala koleksi dan informasi yang dimiliki berusaha menghadirkan literasi di rumah melalui daring. LDR hadir sebagai salah satu alternatif kegiatan literasi secara daring.
Program bercerita/storytelling Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman menjadi salah satu materi alternatif untuk menyampaikan literasi moral dan budi pekerti, khususnya bagi anak-anak. Anak akan belajar kisah-kisah kehidupan. Belajar sastra dengan kedekatan perwatakan tokoh-tokoh pemerannya dalam sebuah cerita, serta mengembangkan daya imajinatif anak dengan mendengar cerita dari pendongeng. Kejenuhan aktivitas literasi baca dan tulis yang mereka lakukan selama sekolah dari rumah, bisa diselingi literasi cerita dengan mendengar pustakawan bercerita melalui kanal IG, FB dan youtube LDR Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman. Literasi tetap bisa diperkaya apalagi mengenai budi pekerti, tata krama dan moral, yang harapannya kekosongan itu bisa diisi dengan program LDR ini.
Bercerita adalah bagian dari sastra lisan yang sudah turun temurun disenangi masyarakat lintas generasi, dari mulai anak-anak, remaja hingga dewasa. Dengan bercerita kita juga melestarikan kebudayaan yang terus harus kita rajut dalam ukiran perjalanan literasi budaya generasi milineal saat ini. Sehingga nilai-nilai moral dan melestarikan budaya akan menjadi nilai tersendiri dari program bercerita di LDR. Lebih-lebih dengan tradisi yang terus terajut antar lintas generasi ini akan turut menjaga peradaban, tradisi lisan bercerita.
Beberapa manfaat langsung yang saya kutip dari Mark Greenwood, penulis buku anak dari Australia, ada lima manfaat dongeng, yaitu mengasah imajinasi, menjadikan manusia lebih kreatif, membuat gemar membaca, membantu mengasah cara berkomunikasi, serta mengasah kemampuan menulis. Kelima manfaat itu adalah cara efektif dalam menumbuhkan budaya literasi yang dapat dilakukan dalam keluarga.
Greenwood menjelaskan, saat mendengarkan dongeng, otak akan membayangkan setiap tokoh dan tempat yang ada di dalam cerita. Nah, saat kita membayangkan tokoh dan tempat, imajinasi kita sedang diasah secara tidak langsung sehingga dapat mengasah imajinasi. Saat berimajinasi, kita pasti akan memberikan warna pada tokoh imajinasi tersebut. Proses pemberian warna pada tokoh imajinasi itu bisa membuat kita lebih kreatif. Semakin kuat imajinasi, maka tingkat kreatifitas kita pun akan semakin meningkat.
Selain mengasah imajinasi dan meningkatkan kreatifitas, dongeng juga bisa membuat kita gemar membaca. Saat mendengarkan dongeng, kita akan penasaran dengan keseluruhan cerita atau hal lain yang berkaitan dengan dongeng tersebut. Jika kita sudah penasaran, kita pun akan mencari buku dan berbagai sumber yang berkaitan untuk mengatasi rasa penasaran tersebut. Dongeng juga bisa mengasah cara kita berkomunikasi. Saat mendengarkan dongeng atau mendongeng, akan ada interaksi antara dua orang atau lebih. Secara tidak langsung, hal itu membuat kita tahu bagaimana cara berkomunikasi yang baik dan nyaman.(*Az)
Leave a Reply