Tim Penyusun:
- Cahyadi Takariawan Ketua merangkap Anggota
- Rahajeng Mufid Anggota
- Noor Aziz Prabanistian Anggota
- Dihya Khalifa Anggota
- Arif Budiarto Anggota
Penyunting
- Rahajeng Mufid
Desain Sampul
- Noor Aziz Prabanistian
Tata Letak
- Sirojul Munir
Diterbitkan
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Sleman
Edisi Pertama
November 2025, viii+150/14,5×20,5
Sinopsis Buku: Literasi, Menavigasi Generasi di Tengah Dunia yang Tak Pasti
Buku ini mengupas tentang pentingnya literasi sebagai fondasi peradaban manusia dan kunci utama dalam membangun masyarakat yang berkualitas. Dimulai dengan pembahasan mengenai mengapa manusia memerlukan literasi, pembaca diberi gambaran tentang potret generasi muda yang masih lemah dalam kemampuan literasi serta tantangan besar yang muncul di era media sosial. Melalui paparan yang reflektif, pembaca diajak memahami bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan juga keterampilan berpikir kritis, kreatif, dan bijak dalam mengelola informasi.
Pada bagian kedua, buku ini menegaskan hubungan erat antara literasi dan pembangunan manusia. Dengan menguraikan konsep Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan peran literasi dalam membentuk karakter generasi muda, pembaca diajak memahami bagaimana literasi dapat meningkatkan kualitas masyarakat secara menyeluruh—baik dari aspek pendidikan, sosial, ekonomi, hingga moralitas bangsa.
Selanjutnya, bab ketiga menghadirkan perspektif yang menarik tentang keluarga harmonis sebagai basis utama literasi. Di sini, keluarga ditempatkan sebagai sekolah pertama yang menentukan arah pembentukan karakter dan kecintaan anak terhadap ilmu pengetahuan. Literasi menjadi jembatan menuju keluarga yang kuat, sejahtera, dan resilien dalam menghadapi tantangan zaman.
Bab keempat membawa pembaca menelusuri realitas masyarakat modern, terutama dalam menghadapi era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) dan BANI (Brittle, Anxious, Nonlinear, Incomprehensible). Buku ini juga menyajikan studi kasus masyarakat Sleman, yang memberikan gambaran konkret tentang budaya literasi dan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM). Melalui data dan refleksi sosial, penulis mengungkap bagaimana literasi menjadi harapan baru bagi kemajuan bangsa.
Sebagai penutup, bab kelima menyoroti arah pembangunan literasi berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045. Dengan membahas strategi, tantangan, dan upaya nyata di masyarakat, terutama di Sleman, buku ini memberikan inspirasi dan panduan bagi pembaca untuk berkontribusi aktif dalam gerakan literasi nasional.
Secara keseluruhan, buku ini bukan hanya sekadar karya akademik, tetapi juga manifesto optimisme bahwa masa depan bangsa akan cerah jika literasi dijadikan gaya hidup dan budaya bersamadimulai dari keluarga, diperkuat oleh masyarakat, dan digerakkan oleh seluruh elemen bangsa.
Leave a Reply