
PROFIL BUPATI SLEMAN Drs. H. SAMIRIN
Bupati Sleman
Periode Pemerintahan Tahun 1985 – 1990
I. RIWAYAT PENDIDIKAN
Bapak Drs. Samirin lahir di Klaten pada tanggal 29 Oktober 1939, anak ke 6 dari pasangan Kartoijoyo dan Wunyi. Beliau menempuh pendidikan dari SD, SMP, dan SMA di Klaten. Pada tahun 1960, setelah menyelesaikan studi di SMA (taman dewasa) Taman Siswa melanjutkan pendidikan di Fisipol Universitas Gadjah Mada Jurusan Sosiatri Pembangunan Masyarakat dan mendapatkan gelar sarjana tahun 1967. Skripsi beliau mengambil topik tentang Pembangunan Masyarakat Desa dengan Prioritas Pelaksanaan Transmigrasi dengan judul Mencegah Arus Urbanisasi dengan Pembangunan Masyarakat Desa dan Transmigrasi.
II.PERJALANAN KARIER
Karier Drs.Samirin dimulai di Departemen Transmigrasi, Koperasi dan Pembangunan Masyarakat Desa. Beliau merupakan mahasiswa ikatan dinas yang dibiayai oleh Departemen Transkopemada sehingga pada tahun 1964 diangkat sebagai pegawai bulanan pada Direktorat Pembangunan Masyarakat Desa di Jakarta berdasarkan Surat Keputusan Kepala Direktorat Pembangunan Masyarakat Desa No. 29/SK/PMD/A-II/64 tanggal 22 Februari 1964. Kemudian pada tahun 1965 diangkat menjadi kepala bagian pada Direktorat Proyek Khusus Departemen Pembangunan Masyarakat Desa di Jakarta.
Pada tahun 1969 beliau ditugasi untuk studi perencanaan pembangunan oleh Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogjakarta, dan sejak itu beliau pindah menjadi pegawai pemerintah daerah. Sebelumnya beliau juga ditugasi sebagai Kepala Bagian Irigasi Daerah Propinsi PMD DIY. Pada tahun 1971 menjabat sebagai kepala Bagian Statistik Sosial Pendidikan dan Kebudayaan Biro Statistik DIY. Selanjutnya beliau ditugaskan di Bappeda DIY, pada tahun 1973 sebagai Kepala Biro Pengendalian kemudian sebagai Kepala Bidang Pengendalian.
Pada waktu itu beliau menghadap kepada rektor UGM, IKIP Negeri dan IAIN agar dibantu sebagai perintis pembangunan di Daerah Istimewa Yogjakarta, dan semua mendukung. Dengan demikian ada kerjasama antara gubernur dan para rektor. Beliau mendukung adanya KKN (Kuliah Kerja Nyata) sehingga KKN memang digerakkan. Diharapkan kepada para rektor sebelum KKN keluar supaya KKN berada di Yogyakarta. Pada waktu itu beliau juga merangkap sebagai dosen APMD (Akademi Pembangunan Masyarakat Desa).
Pada tahun 1975, pada waktu itu Ngarso Dalem Sri Sultan IX sebagai Wakil Presiden ada kerjasama dengan UNCAD United Nation Central Development di Nagoya dan ada sepuluh tim dari Yogjakarta dikirim untuk studi pembangunan wilayah di Jepang selama dua tahun dan selain di Jepang, beliau ditugasi juga studi pembangunan luar bandar di Malaysia, pembangunan kerajinan di Thailand, koperasi dan pertanian di Philipina dan juga di Korea. Beliau menyusun suatu makalah, makalah itu adalah pembangunan desa di Gunung Kidul dan Kulon Progo dengan titik berat to improv capability of the people, meningkatkan kemampuan masyarakat dalam pembangunan wilayah. Kemudian dipraktekkan di Gunung Kidul dan Kulon Progo dengan membangun Gunung Kidul dan Kulon Progo daerah minus terisolir dengan didukung oleh bank dunia mendapatkan dana bantuan 20 juta U$ dolar.
Beliau mengkritik bank dunia orientasi pertumbuhan ekonomi kalau yang terjadi hanya pertumbuhan ekonomi, maka yang terjadi ketimpangan, sebab itu pertumbuhan ekonomi harus diikuti dengan pembagian kesempatan dan hasil-hasil pembangunan. Pada tahun 1984 beliau menjabat sebagai Wakil Ketua Bappeda Propinsi DIY berdasarkan Keputusan Gubernur Kepala DIY No. 275/pem.D/UP/K/D4 tanggal 22 Agustus 1984. Kemudian tahun 1985 beliau dicalonkan menjadi Bupati Kepala Daerah Tingkat II Sleman. Pada tahun itu masa jabatan KRT.H.Prodjosujoto Hadiningrat sebagai Bupati Kabupaten Dati II Sleman berakhir dan penggantinya adalah Drs. Samirin. Drs. Samirin adalah Bupati ke tujuh Kabupaten Sleman yang menjabat selama satu periode tahun 1985 – 1990.
Beliau diangkat menjadi Bupati berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 131.34.426 tanggal 13 Mei 1985. Pengambilan sumpah jabatan Bupati dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 25 Juni 1985 bertempat di gedung Pemerintah Daerah Kabupaten Dati II Sleman dihadapan rapat pleno DPRD Tingkat II Sleman. Pengambilan sumpah dilaksanakan oleh Sri Paduka Paku Alam VIII yang didampingi oleh seorang rokhaniawan bernama Drs. Sumardjo dengan saksi Drs. KMT. Nayono Kusumo (Assekwilda Pemprop DIY) dan Drs. KMT. Wiroseputro (Ketua BKPMD Propinsi DIY). Serah terima jabatan dilaksanakan pada hari itu juga bertempat di gedung serbaguna Kabupaten Dati II Sleman di hadapan Sri Paduka Wakil Gubernur Kepala DIY atas nama Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia.
Masa jabatan Drs. Samirin sebagai Bupati Kabupaten Dati II Sleman berakhir pada tahun 1990 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia No. 131.34-466 tanggal 9 Juni 1990 tentang pemberhentian dan pengangkatan Bupati Kepala Dati II Sleman Propinsi DIY. Pada masa jabatannya Drs. Samirin mengalami sekali pergantian ketua DPRD yakni pada tahun 1987 dari Samingan HS kepada Letkol Sudiyono yang menjabat dua periode jabatan (1987-1997). Setelah masa jabatannya sebagai Bupati berakhir beliau tetap aktif sebagai PNS dan menjabat sebagai Asisten Sekwilda Bidang Kesra Propinsi DIY kemudian Asisten Sekwilda Bidang Ekbang DIY dan Kepala BP7 Propinsi DIY. Pada Tahun 1999 beliau pensiun menjadi PNS berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 56/PENS Tahun 1999 tanggal 7 September 1999.
III.STRATEGI DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN
Kebijaksanaan pembangunan di DIY dititik beratkan pada bidang pendidikan, pusat pariwisata kedua setelah Bali, kemudian pusat kebudayaan dan pengembangan regional, transportasi regional, di Jawa Tengah bagian selatan. Bidang kebudayaan (aspek culture, pariwisata), pendidikan, sosial, dimanfaatkan untuk pembangunan bidang ekonomi. Beliau mempraktekkan lebih jauh dalam kegiatan-kegiatan pembangunan dan pemerintahan, karena latar belakang beliau pembenahan pembangunan masyarakat pedesaan maka masalah-masalah pedesaan itu dikembangkan selaras dengan pertumbuhan perkotaan. Itulah latar belakangnya sehingga beliau ditugaskan di Sleman. Kebijakan Pembangunan Kabupaten Dati II Sleman pada tahun 1985 menitik beratkan pada usaha-usaha pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya sampai tingkat padukuhan dengan sasaran utama mengurangi kemiskinan dan keterbelakangan. Pendidikan dan budaya dikembangkan untuk pembangunan masyarakat seutuhnya, pembangunan perkotaan sebagai pusat pelayanan dan pembangunan pedesaan sebagai latar belakang produksi dan latar belakang tenaga.
Dalam pengembangan wilayah Propinsi DIY, Kabupaten Dati II Sleman termasuk dalam wilayah pengembangan kawasan lereng Merapi. Untuk mendapatkan kecermatan dalam pemanfaatan potensi dan pemecahan masalah dari masing-masing wilayah maka pengembangan wilayah Kabupaten Dati II Sleman dikelompokkan dalam wilayah pengembangan (regionalisasi) yaitu : 1.Daerah perkotaan yang berbatasan dengan Kota Yogyakarta yaitu daerah Gamping, Sleman, Mlati, Ngaglik, Depok, Berbah, Kalasan dan Pakem 2.Daerah pedesaan yang terdiri dari : Daerah Kritis, baik kritis hidrologi maupun kritis akibat bencana alam Gunung Merapi. Daerah ini meliputi Gayamharjo, Wukirharjo, Sambirejo, Kecamatan Prambanan, sebagian Balecatur Kecamatan Gamping, lereng Gunung Merapi serta daerah yang terlanda bencana alam Gunung Merapi. Selain daerah tersebut merupakan daerah pertanian yang subur meliputi Kecamatan Moyudan, Seyegan, Godean, sebagian Kecamatan Turi, Tempel, Pakem, Cangkringan, Ngaglik, Ngemplak dan Prambanan. Khusus untuk daerah kritis baik kritis hidrologi maupun kritis karena bencana alam Gunung Merapi diupayakan rehabilitasi melalui penghijauan, terasering, pembutan cekdam, pembuatan jalan-jalan untuk menghilangkan isolasi desa serta peningkatan usaha-usaha penanggulangan bencana alam Gunung Merapi secara terpadu.
Pemanfaatan dan pengembangan daerah pedesaan dan perkotaan diarahkan sesuai dengan ciri-ciri utamanya agar tetap terjamin kelestarian hidupnya. Dalam rangka pembangunan daerah dikembangkan hubungan timbal balik yang serasi dan saling menguntungkan antara daerah perkotaan dan pedesaan sesuai fungsi kota sebagai pusat pertumbuhan dan pengembangan. Dalam rangka menangani pembangunan dan pembinaan kota perlu adanya perencanaan yang baik untuk kota maupun daerah sekitarnya.
Untuk itu kebijakan pembangunan wilayah diarahkan dengan menetapkan dan mengisi kegiatan pembangunan dengan prioritas wilayah pusat pertumbuhan, yaitu :
- Kota Sleman sebagai Ibukota Kabupaten Dati II Sleman adalah pusat pemerintahan yang akan dikembangkan sebagai pusat pelayanan umum, perumahan, perdagangan jasa, sarana perhubungan dan pusat fasilitas umum yang memadai bagi seluruh wilayah Kabupaten Sleman
- Kota Tempel sebagai pintu gerbang DIY bagian utara dikembangkan sebagai pusat perdagangan dan hasi-hasilnya
- Kota Pakem yang dilewati jalan wisata sangat strategis dikembangkan sebagai pendukung wisata pegunungan kaliurang dan pengembangan pertanian lereng Merapi serta sebagai pusat konservasi tanah dan air
- Kota Prambanan merupakan pintu gerbang DIY bagian timur dan tempat tujuan wisata utama karena didukung oleh situs-situs peninggalan purbakala termasuk di dalamnya taman wisata, desa wisata, sarana perdagangan dan fasilitas umum. Pengembangan kotanya diarahkan untuk meningkatkan fasilitas yang mendukung wisata utama dan mempertahankan kelestarian peninggalan purbakala
- Kota Kalasan termasuk zona pengembangan taman wisata Prambanan-Borobudur, pengembangannya diarahkan terutama sebagai tempat wisata budaya dan peninggalan purbakala yang dilestarikan sebagai cagar budaya, indutri kecil dan kerajinan rakyat
- Kota Depok sebagai pusat pendidikan, fasilitas wisata mancanegara, wisata remaja, dan wisata pendidikan. Kota Depok merupakan pintu gerbang DIY lewat bandar udara Adi Sucipto pengembangannya diarahkan untuk meningkatkan sarana dan prasarana serta fasilitas yang mendukung kota Depok sebagai pusat pendidikan dan salah satu pusat wisata serta dikembangkan sebagai pusat pemukiman dan fasilitas perdagangan regional
- Kota Gamping dilalui lingkar selatan dan utara Yogyakarta pengembangannya diarahkan sebagai pusat pelayanan transportasi dan perdagangan di kawasan Yogyakarta bagian utara
- Kota Godean sebagai daerah pertanian dan industri kecil pembangunannya diarahkan sebagai pusat pengembangan pertanian dan industri kecil Untuk mendapatkan data tentang keadaan sosial ekonomi dan keadaaan desa serta lingkungannnya dalam rangka mendukung program pembangunan maka dilaksanakan kegiatan survey dan penelitian antara lain :
- 1.Penelitian kawasan Pakem, Turi, dan Cangkringan tahun 1986-1987 kerjasama Bappeda Tingkat II Sleman dengan UGM hasilnya pengembangan kawasan lereng Merapi dengan tanaman holtikultura serta pengembangan pariwisata
- 2.Penelitian kawasan Tempel tahun 1986-1987 kerjasama Bappeda tingkat II Sleman dengan UGM hasilnya Tempel sebagai pintu gerbang DIY bagian utara dikembangkan sebagai jalur transportasi dan perdagangan
- 3.Penelitian kawasan Prambanan tahun 1986-1987 kerjasama Bappeda tingkat II Sleman dengan UGM hasilnya Prambanan sebagai pintu gerbang DIY bagian timur dan sebagai kawasan pariwisata
- 4.Penelitian dan penyusunan tata ruang kawasan arteri Maguwo-Jombor tahun 1986-1987 kerjasama Bappeda tingkat II Sleman dengan fakultas teknik UGM
- 5.Pembuatan survey dan desain oleh DPU Kabupaten Sleman antara lain Pasar Denggung tahun 1986, gedung DPRD tahun 1987 DPU, dan jalan bebas rel KA Sleman Tempel tahun 1987.
Berdasarkan penelitian yang beliau laksanakan, pendapatan asli daerah di Kabupaten Sleman tahun 1985, bahwa 60 % sumber keuangan hanya dari 3 kecamatan yaitu kecamatan Depok, Mlati, dan Ngaglik. Yogjakarta sebagai pusat kebudayaan, pusat pariwisata, pusat pendidikan, dan transportasi maka ibarat air Yogyakarta sebagai waduk sehingga beliau mengalirkannya ke Sleman dengan cara membangun jalan, dan memberi dukungan kepada perguruan tinggi. Dampak dari pembangunan kampus itu luar biasa. Strategi yang dilakukan oleh beliau antara lain dengan membangun jembatan, jalan dan pasar. Pembangunan jalan yang menghubungkan kota mendapatkan prioritas pada waktu itu.
Kegiatan pembangunan di Kulon Progo dari pada orientasi ke Magelang maka disedot ke Sleman dengan pembangunan jembatan Ngapak yang menghubungkan Yogjakarta Godean Ndekso. Jembatan yang dibangun tersebut ada beberapa fungsi, selain untuk menghadapi emergensi kalau ada erupsi merapi juga berfungsi supaya hasil kegiatan pembangunan di Kulon Progo mengalir di Sleman. Untuk mendapatkan income yang tinggi, pasar Prambanan dibangun supaya hasil yang dicapai oleh masyarakat Kabupaten Klaten mengalir ke Sleman.
Demikian juga pasar Tempel dibangun supaya yang dari utara mengalir ke Sleman. Prambanan sebagai pusat pariwisata candi dihubungkan dengan airport, dihubungkan dengan kota Yogyakarta, dan dihubungkan dengan Borobudur. Pada saat itu diprioritaskan pembangunan sarana transportasi seperti pembangunan jalan ringroad dan dibuat jalur jalan ke barat dari Jombor ke Gamping, dan di Gamping dibangun pasar sehingga tidak semua pasar berada di dalam kota.
Pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan pendidikan dihubungkan dengan pedesaan dengan dibuat jalan. Desa dibuat sebagai sumber tenaga kerja yang terdidik dan terlatih. Desa dikembangkan sebagai pusat kerajinan dan pusat pertanian sehingga tanah-tanah yang subur dipertahankan. Sarana transportasi pedesaan seperti koperasi pemuda dikembangkan tugasnya sebagai sarana komunikasi daerah pedesaan dengan perkotaan dan pusat pendidikan.
Putra daerah Sleman tidak perlu kost di kota Yogyakarta dengan adanya transportasi yang cukup baik dan ibu-ibu hamil tidak perlu nggendong hasil pertanian sehingga mengurangi kematian bayi dan ibu. Kemudian untuk itu di bangun terminal, seperti terminal Jombor, terminal Condong Catur, terminal Gamping, dan sebagainya. Kebijakan dalam pembangunan sektor pertanian di pedesaan harus swa sembada beras. Untuk mendukung sektor pertanian, pembangunan pengairan diarahkan pada peningkatan dan pengembangan air untuk irigasi, mengamankan areal produksi dari kerusakan akibat banjir dan dalam rangka peningkatan produksi pertanian.
Disamping itu pembangunan pengairan juga ditunjukan untuk mengatur dan menjaga kelestarian sumber-sumber air dan menunjang penyediaan air untuk kesejahteraan rakyat. Selanjutnya kegiatan operasional dan pemeliharaan jaringan irigasi semakin ditingkatkan melalui partisipasi masyarakat. Untuk mewujudkan swasembada beras, kegiatan pertanian memerlukan air sehingga irigasi dikembangkan dan dilaksanakan perbaikan selokan Mataram dan Van deer wij. Pekerjaan perbaikan saluran irigasi tidak dilaksanakan pada musim kemarau walaupun pada musim kemarau pekerjaan dapat lebih mudah tetapi karena saluran itu dapat diatur maka perbaikan dan pengedukan selokan Mataram dilaksanakan pada musim penghujan. Dengan demikian pada musim kemarau kegiatan pertanian dan perikanan tidak mengalami kesulitan air.
Kegiatan pembangunan irigasi meliputi peningkatan, perbaikan, rehabilitasi dan ekploitasi serta pemeliharaan jaringan irigasi yang dimaksudkan untuk menjadikan sistim irigasi teknis/setengah teknis. Dalam rangka meningkatkan peran serta masyarakat petani untuk pemeliharaan jaringan-jaringan pengairan dan pengaturan pemanfaatan air irigasi maka dilakukan penyuluhan terhadap OPPA. Berdasarkan Monografi Kabupaten Dati II Sleman Tahun 1989 bahwa pada akhir tahun 1988/1989 seluruh desa di Kabupaten Sleman telah mencapai desa swasembada beras. Strategi beliau dalam pembangunan adalah bangunlah jalan seperti blarak sineret (bangunlah jalan sepanjang mungkin), bangun irigasi untuk pertanian karena semua membutuhkan air, dan sebarlah uang di desa-desa sehingga uang tidak hanya beredar di kota.
Arah pembangunan di bidang kehutanan adalah menghijaukan lahan-lahan kritis dan memperluas kawasan hutan meliputi hutan lindung, hutan wisata dan hutan rakyat. Kegiatan reboisasi ditujukan untuk mengembalikan fungsi hutan dan meningkatkan hasil hutan ikutan. Sedangkan kegiatan penghijauan merupakan rangkaian kegiatan reboisasi di lahan milik rakyat dalam bentuk pembuatan, pemeliharaan dan pengendalian terasering, petak percontohan usaha tani pelestarian alam, penanaman dan sulaman tanaman tahunan serta rumput untuk makanan ternak. Berdasarkan hasil penelitian dari geologi bahwa dari Tempel sampai Klaten merupakan tandon air maka daerah lereng Merapi dikembangkan dengan menanam tanaman keras, salak pondoh, rumput, peternakan dan perikanan.
Hutan lereng Merapi berperan penting dalam mengatur tata air, pengendali kekeringan dan penyangga air baik untuk keperluan pengairan maupun untuk air minum bagi masyarakat di Kabupaten Sleman, Kotamadya dan Bantul. Oleh karena itu terus menerus dilakukan upaya untuk memperluas dan memelihara kawasan hutan lindung, hutan wisata dan hutan rakyat. Sejak tahun 1988 mulai diupayakan untuk membangun hutan wisata di lereng merapi seluas ± 25 ha. Usaha tersebut selain untuk mempertahankan dan meningkatkan peranan lereng Merapi sebagai penyangga air sekaligus untuk mendukung pengembangan pariwisata alam dan pendidikan masyarakat.
Pembangunan sektor industri semakin mantap dalam upaya mendorong terwujudnya struktur ekonomi yang semakin seimbang dan kuat, yaitu dengan semakin berperannya sektor industri dalam perekonomian daerah dan didukung oleh sektor pertanian. Pertumbuhan industri diikuti pula dengan peningkatan ekspor non migas yang dihasilkan oleh perusahaan aneka industri maupun industri kecil dan kerajinan.
Pada tahun 1983 nilai ekspor baru mencapai US 403,078.76 menjadi US 10,206,296.12 pada tahun 1988 dan pada tahun 1989 sampai dengan bulan November mencapai US 11,251,491.73. Nilai ekspor yang tertinggi pada komoditi tekstil, kemudian bola lampu, garment dan chopstick. Perkembangan pembangunan sektor industri memiliki hubungan yang erat dengan penanaman modal. Jumlah investasi pada perusahaan aneka industri melonjak tajam hal ini disebabkan karena adanya pendirian beberapa perusahaan baru. Peranan utama industri kecil dan kerajinan di Kabupaten Dati II Sleman terletak pada penyerapan tenaga kerja dan pemerataan berusaha.
Pada tahun 1990 atas keberhasilannya dalam mengembangkan koperasi sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Dati II Sleman Drs. Samirin mendapatkan penghargaan berupa tanda kehormatan Satyalancana Pembangunan dari Presiden RI (SK Presiden RI No. 045/TK/Tahun 1990 tanggal 9 Juli 1990). Dalam rangka mengembangkan hubungan manusia dengan Allah maka di bangun masjid Agung. Kemudian yang kedua dikembangkan demokrasi yaitu membangun hubungan dengan sesama maka dibangun gedung DPR. Sedangkan dalam mengembangkan budaya dibangun gedung kesenian dan untuk melestarikan lingkungan hidup di bangun telaga (Tirta Arta).
Berdasarkan lampiran Keterangan Pertanggungjawaban Bupati Kepala Dati II Sleman tentang Pelaksanaan pemerintahan dan Pembangunan tahun kerja 1989/1990 kepada DPRD Kabupaten Dati II Sleman menyebutkan bahwa pembiayaan pembangunan yang berasal dari pendapatan asli daerah prosentasenya relatif kecil bila dibanding subsidi pembangunan yang berasal dari pemerintah pusat namun dari tahun ke tahun ( 1985/1989 – 1989/1990) semakin meningkat. Hal ini menunjukkan semakin meningkatnya kemampuan daerah dalam membiayai kegiatan pembangunan sehingga ketergantungan pada pemerintah semakin berkurang.
Sumber diambil dari :
- Laporan Bupati Kepala Dati II Sleman tentang Pelaksanaan Pemerintahan Tahun 1985/1986
- Lampiran keterangan Pertanggungjawaban Bupati Kepala Dati II Sleman tentang Pelaksanaan pemerintahan dan Pembangunan tahun kerja 1989/1990 kepada DPRD Kabupaten Dati II Sleman
- 84 Tahun Kabupaten Sleman diterbitkan oleh bagian Humas Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman 2000
- Hasil wawancara dengan Drs. Samirin Bupati Kabupaten Dati II Sleman tahun 1985-1990 oleh Kantor Arsip Daerah Kabupaten Sleman tanggal 27 Maret 2012
- Khasanah Arsip foto KAD Kabupaten Sleman
- Khasanah arsip statis KAD Kabupaten Sleman