Resensi Buku ‘Sebuah Angan dan Harapan’

Judul                           : Sebuah Angan dan Harapan (SAH)

Pemulis                       : Sharenja

Penerbit                     : Wahyu Qalbu

Tahun Terbit             : Mei 2019

Cetakan                      : Cetakan 1

Tebal buku                 : vi, 509 halaman

Harga                          : Rp 87.000,-

Buku ini menceritakan tetang pertemuan dua orang laki-laki dan perempuan yang tidak diharapkan. Mereka adalah Sadyta dan Diersyad. Mereka tidak saling mengenal bahkan setelah mengenal tidak ada kecocokan. Keduanya terpaksa mengikat janji palsu karena tidak ada pilihan lain. Mereka mempunyai tuntutan dari orang tua mereka untuk segera memiliki pasangan hidup. Sandiwara pernikahan berjalan terus hingga menjelang pada tahun pertama. Beberapa perjanjian yang harus ditepati telah mereka sepakati. Ada rasa bahagia yang tersembunyi pada keduanya, jengkel, cemburu, gengsi, dan percekcokan yang sering mereka alami. Adanya kebiasaan kebersamaan dalam satu rumah meskipun tidak dalam satu ranjang, menyebabkan rasa cinta yang samar dan lama kelamaan enggan untuk berpisah. Berita bahagia namun mengagetkan untuk keduanya bahwa akan memiliki momongan. Berjalannya waktu mereka saling menunjukkan rasa cinta. Sadyta memiliki mertua yang sangat perhatian dan mengurusi segalanya. Berita menyedihkan muncul karena adanya penyakit berbahaya yang menyerang Diersyad dan sulit disembuhkan. Berkat dukungan, motivasi, dan kekuatan cinta mereka penyakit tersebut sembuh. Mereka dikarunia dua anak hingga pada anak pertama berusia 20 tahun. Namun takdir berkata lain, penyakit Diersyad kambuh dan akhirnya meninggal dunia. Dan pada usia 50 tahun tersebut sudah ada keikhlasan pada keluarganya.

Cerita pada buku ini mudah dipahami dalam sekali baca. Cerita yang sangat bagus membawa pembaca terbawa pada emosionalnya. Mampu menggambarkan kondisi suka, duka, apresiasi yang jelas. Buku ini memberikan pelajaran pada kita untuk menghargai orang di sekitar kita siapapun itu. Karena terlalu benci atau terlalu suka akan menerima akibat dari perasaan yang terlalu tesebut. Adanya bahagia harus siap dengan kondisi sedih yang mungkin terjadi, begitu juga sebaliknya. Adanya pertemuan dimungkinkan adanya perpisahan. Cerita dari novel ini bagus jika difilmkan.

Akhir dari cerita ini ada yang tersensor pada kondisi riil tokoh Sadyta. Emosional Sadyta pada saat kehilangan kurang terekspose dengan jelas. Begitu juga dengan anak-anak mereka. Masih ada pertanyaan juga mengenai kondisi orang tua Diers, apakah masih hidup atau sudah meninggal.

Oleh : Rika Hardiana, Pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman

Be the first to comment

Tinggalkan pesan