Masjid Plosokuning dan Mlangi Warnai Perjalanan Sejarah Kabupaten Sleman

Pada masa Sultan Hamengku Buwana I pusat kerajaan adalah raja yang berkedudukan di Kraton. Wilayah Kraton dan sekitarnya sebagai pusat pemerintahan dinamakan nagara atau kuthagara, sedangkan wilayah di sekitar kuthagara adalah nagaragung, dan mancanagara adalah wilayah yang jauh dari kuthagara. Saat itu Sleman dan Kalasan menjadi wilayah nagaragung yang dipimpin oleh seorang pejabat sebagai abdi dalem yang didalamnya terdapat desa berstatus desa pathok nagara, yaitu Plosokuning dan Mlangi. Sebagai desa pathok nagara maka statusnya menjadi tanah perdikan yang bebas pajak, bertujuan untuk memajukan agama, memelihara makam-makam raja, pesantren, langgar, dan masjid, serta memberi imbalan kepada seseorang yang berjasa kepada raja.

Karena untuk memajukan agama, di dalam wilayah desa pathok nagara didirikan masjid pathok nagara. Di setiap masjid tersebut diangkat seorang kiai sebagai pimpinan masyarakat yang memiliki otoritas dalam keagamaan. Selain untuk syiar agama islam, masjid pathok nagara berfungsi juga sebagai benteng pertahanan pada masa Perang Diponegoro.

Sekilas Masjid Malngi dan Plosokuning

Masjid Mlangi dan Plosokuning merupakan dua masjid pathok nagara di samping tiga masjid lainnya, yaitu Masjid Gedhe Kauman sebagai pusat, Masjid Ad-Darojat Babadan yang terletak di sebelah timur kraton, dan Masjid Al-Huda Dongkelan yang berada di sebelah selatan kraton. Pendirian masjid pathok nagara ini tidak dapat dipisahkan dengan Kasultanan Ngyogyakarta Hadiningrat yang berdiri tahun 1755 M setelah perjanjian Giyanti yang membagi Kerajaan Mataram menjadi Surakarta Hadiningrat dan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Masjid Jami’ Mlangi
Masjid Plosokuning

Masjid yang sekarang disebut sebagai Masjid Jami’ Mlangi dibangun tahun 1758 M pada masa Sultan Hamengku Buwana II, sedangkan masjid Plosokuning didirikan antara tahun 1812 M sampai dengan 1814 M ketika masa Sultan Hamengku Buwana III.

Berawal dari riwayat raja Mataram Islam, Amangkurat IV yang mempunyai tiga orang putra, yaitu Gusti Bendoro Pangeran Haryo Sandiyo atau Raden Mas Ichan, Pangeran Adipati Anom, dan Pangeran Mangkubumi. Pasca Perjanjian Giyanti Pangeran Adipati Anom diangkat menjadi Raja Surakarta bergelar Sunan paku Buwono II dan Pangeran Mangkubumi menjadi Raja Ngayogyakarta bergelar Sultan Hamengku Buwana I, sedangkan Raden Mas Ichsan memilih sebagai ulama di Gegulu, sebuah desa di sebelah selatan Kulonprogo yang terkenal dengan gelar Kyai Nur Iman. Setelah itu, beliau pindah ke Susukan dan tidak lama kemudian beliau pindah lagi ke sebuah desa di sebelah barat Kraton Ngayogyakarta yang tanahnya meleng-meleng ambune wangi (keras dan harum baunya ). Disana beliau membangun pondok pesantren dengan nama pamulangan pada tahun 1758, yang menjadi pesantren pertama di Yogyakarta. Aktivitas beliau adalah mengajar atau mulang, sehingga daerah tersebut terkenal dengan sebutan Mlangi yang berasal dari kata mulangi. 

Diantara putra Kyai Nur Iman adalah Raden Nawawi dan raden Mursada. raden Nawawi menjadi abdi dalem Masjid pathok negara Malngi, sedangkan putra Raden Mursada, yaitu Raden Mustafa atau Kyai Hanafi I, menjadi abdi dalem Masjid pathok negara Plosokuning. Di Dusun Plosokuning terutama di sekitar masjid pathok negara sampai saat ini hanya ditempati oleh keturunan Kyai Mursada.

Masjid Mlangi terletak di Dusun Mlangi, Desa Nogotirto, Kecamatan gamping, Sleman, dan Masjid Plosokuning berada di Dusun Plosokuning, Desa Minomartani, Kecamatan Ngaglik, Sleman. Baik di Masjid Mlangi maupun di Masjid Ploso Kuning terdapat makam kuno. Di kompleks Masjid Mlangi terdapat makam Kyai Nur Iman dan tokoh prajurit Diponegoro. Begitu juga di kompleks Masjid Plosokuning, yang salah satunya ditemukan makam Kyai Mursada.

Khasanah Kearifan Lokal Bangunan Masjid Pathok Nagara

Jika memasuki masjid pathok nagara kita akan melihat bangunan masjid-masjid lainnya, seperti gapuro, pohon sawo, kolam, mimbar, tongkat, bentuk atap, dan serambi. Berikut ini diuraikan secara singkat tenatang kearifan lokal dari beberapa bagian bangunan masjid tersebut.

Gapuro, pohon sawo, dan kolam adalh tiga hal yang ditemui pertama kali saat mengunjungi masjid pathok nagara. Gapuro berasal dari kata dalam bahasa arab ghofuro yang berarti ampunan. Maknanya adalah siapa saja yang melewati gapuro menuju masjid dan berniat islam serta sungguh-sungguh dalam beribadah maka dosanya akan diampuni oleh Allah SWT. Setelah melewati gapuro, terlihat pohon sawo kecik yang ditanam di depan masjid. Sawo kecik mengandung filosofi makna sarwo becik atau serba baik yang artinya orang islam hendaknya menjadi pribadi yang serba baik, baik lahir batinnya, baik ibadah akhlaknya, serta baik kepada Tuhan dan sesama. Maknanya adalah setiap orang yang akan beribadahdimasjid harus suci jasmani dan rohani. Suci jasmani ditempuh dengan cara berwudlu dan suci rohani diupayakan dengan memurnikan niat dan menjaga semangat ikhlas.

Apabila masuk ruangan utama masjid, kita akan melihat adanya mimbar yang merupakan tempat khotib menyampaikan khotbah dan tongkat yang digunakan khotib ketika menyampaikan khotbah. Untuk mimbar hampir semua masjid memilikinya, tetapi tidak semua menggunakan tongkat. Tongkat berfungsi untuk menjaga konsentrasi khotib dan agar tidak mempermainkan tangannyaketika berkhutbah.

Bangunan masjid pathok nagara biasanya terdiri dari tiga bagian, yaitu ruangan utama, serambi, dan pawestran. Di atap bangunan ruang utama terdapat mustaka berbentuk gadha bersulur daun kluwih yang berarti linuwih atau memiliki kelebihan, sedangkan gadha artinya tunggal. maknanya adalah jika manusia menyembah dan beribadah kepada Allah Yang Maha Tunggal dengan ikhlas maka ia akan memiliki kelebihan dan kesempurnaan hidup. Bangunan kedua adalah serambi yang berbentuk segi empat dan beratap limasan. Sebelum masuk serambi terdapat kanopi atau kuncungan yang berada di atas kolam. Dari kuncungan menuju serambi dan dari serambi menuju ruang utama terdapat tiga undakan yang melambangkan tiga unsur dalam agama, yaitu iman, islam dan ihsan.  Iman adalah kepercayaan terhadap enam rukun iman yang dikaji melalui ilmu tauhid. Islam terkait dengan kewajiban ibadah kepada Allah SWT yang dikaji melalui ilmu fiqih. Ihsan terkait dengan akhlak lahir batin yang dipahami melalui ilmu tasawwuf. Ketiganya harus ada pada diri seorang muslim.

Beberapa kearifan lokal bangunan masjid di atas mengingatkan masyarakat bahwa karya dan budaya bangsa kita memiliki nilai dan filosofi tersendiri yang tidak kalah dengan budaya orang lain. dengan mempertahankan nilai dan kearifan lokal diharapkan masyarakat tidk akan kehilangan makna, kearifan dan jati diri walaupun zaman semakin modern.

Ruang Utama Masjid Pathok Negara Mlangi
Ruang Utama Masjid Pathok Nagara Plosokuning

 

Sumber : Buletin Arsip Edisi XIII Januari-Juni 2016

1 Komentar

Tinggalkan pesan