Dalang dan Ketoprak, Jiwa Raga Gito

          Ratusan atau bahkan ribuan orang dari berbagai profesi setiap hari melintasi jalan Gito-Gati di Kabupaten Sleman Yogyakarta, jalan yang menghubungkan Jalan Magelang dan Jalan Monumen Jogja Kembali. Bagi masyarakat Sleman tentu nama jalan itu tidak asing di telinga karena nama jalan tersebut diambil dari tokoh ketoprak tradisional yang berasal dari daerah ini. Bupati Sleman, Sri Purnomo, meresmikan ruas jalan tersebut tepat pada Hari Ulang Tahun Pemerintah Kabupaten Sleman ke-95, tanggal 15 Mei 2011.

          Gito Gati merupakan gabungan dua nama tokoh kembar ketoprak, Sugito dan Sugati. Mereka dilahirkan di Dusun Pajangan, sebuah dusun yang masuk wilayah Desa Pandowoharjo, Kecamatan Sleman, dan di sana pula beliau tutup usia. Dilahirkan pada 31 Desember 1936 dari ayah yang bernama Cermo Warno dan ibu Juwok, mereka mewarisi darah seni kedua orang tuanya.

Jalan Gito-Gati merupakan jalan penghubungkan antara perempatan Denggung dengan perempatan Grojogan, Pandowoharjo, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Jalan Gito-Gati merupakan jalan penghubungkan antara perempatan Denggung dengan perempatan Grojogan, Pandowoharjo, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

          Pemerintah Kabupaten Sleman bangga menamai ruas jalan tersebut dengan nama tokoh lokal sebagai penghormatan dan sekaligus bangga pula terhadap kehidupan sang tokoh. Sampai akhir hidupnya beliau tetap konsisten untuk nguri-uri kebudayaan asli negeri ini, sehingga tidak berlebihan jika sang legenda menyandang gelar maestro ketoprak.

          Selain mahir dalam berakting di ketoprak, Gito juga pintar mendalang. Gito kecil dan saudara kembarnya, Gati, dibesarkan dalam lingkungan seni yang sangat kental dan kemudian berhasil mengasah bakat berkeseniannya. Kesusastraan yang dikuasai oleh Gito membantunya dalam mendalang dan tentunya dalam bermain ketoprak. Selain itu, figur Gito Gati juga berpengaruh terhadap pementasan ketoprak yang pada tahun 1970an sampai 1980an selalu dibanjiri penonton. Apapun ceritanya kalau pemainnya adalah Gito dan Gati pasti akan menyedot perhatian masyarakat untuk menonton karena mereka tertarik pada figur yang selalu mengocok perut penonton karena humor yang selalu diciptakan. Saat salah satu dari kembar ini melemparkan sebuah topik, yang lain mampu menanggapi dengan tepat dan akhirnya menghasilkan percakapan atau adegan yang memancing tawa penonton, meskipun tanpa skenario sebelumnya. Inilah kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh seniman Gito Gati yang mungkin tidak dapat ditemukan dari seniman tradisi lainnya.

          Gito terkesan lebih santai, nakal dan suka membanyol, bahkan saat menjadi tentara rakyat atau oril pun kenakalan beliau sudah kelihatan. Pada waktu pemberian gaji, satu persatu tentara dipanggil untuk mengambil jatah. Saat nama Gati, saudara kembarnya disebut, Gito maju untuk mengambilnya, padahal sebelumnya Gito sudah dipanggil dan gajinya sudah diambil. Berkat kemiripan wajah saudara kembar ini, petugas tidak mengetahui aksi nakal Gito. Bahkan, saat sakit dan beberapa hari menjelang Gito wafat, beliau masih bisa membuat orang lain tertawa. Beliau berpesan pada Gati untuk tidak memasang batu nisan di atas pemakamannya. Ditanya oleh Gati kenapa, jawabnya, “kijing kae rak abot to, nak ambleg nibani sirahku rak yo loro.” (Batu nisan itu kan berat, kalau kepalaku kejatuhan kan sakit).

          Dibalik “ketidakseriusannya”, Gito suka mengerjakan laku prihatin. Berpuasa adalah salah satu laku prihatin yang sering dikerjakan untuk mengiringi pengabdiannya dalam berkesenian. Beliau pernah bertutur bahwa kalau buah dari laku prihatinnya itu belum dipetiknya pasti suatu saat anak keturunannya yang akan menikmatinya.

          Orang-orang terdekat dalam hidup Gito juga berkecimpung dalam seni tradisi. Dua istri beliau adalah waranggana atau pesinden. Anak-anak beliau pun mengikuti jejak Gito.

          Jika membicarakan ketoprak Gito Gati, kita tidak dapat melepaskan PS Bayu. Persatuan Seni Bagian Yogya Utara, grup ketoprak yang dirintis oleh Gito Gati. Ini adalah wadah bagi seniman yang berada di wilayah Yogyakarta bagian utara untuk berkarya. Namun, pada perkembangannya tidak hanya seniman dari Sleman yang turut serta, seniman dari Yogyakarta  juga ikut tampil melalui PS Bayu.

          Tak sedikit pengalaman yang menyentuh hati yang dialami PS Bayu, diantaranya ketika rombongan PS Bayu yang masih memakai kostum ketoprak digelandang ke kantor polisi. Peristiwa ini terjadi di Semin, perbatasan antara Gunung Kidul dan Klaten. Saat itu diselenggarakan pasar malam di dua tempat berbeda. Namun saat PS Bayu pentas di satu tempat, para penonton di tempat lain yang sudah membeli tiket marah karena pertunjukan tak kunjung dimulai. Amarah massa pun tak bisa dihindari, hingga Polisi pun turun tangan. PS Bayu akhirnya digiring ke kantor polisi untuk dimintai keterangan atas peristiwa tersebut.

           Pengalaman yang mengesankan lainnya pada saat PS Bayu mulai melejit namanya pada tahun 1978. Ketoprak menjadi hiburan bagi masyarakat kala itu dan PS Bayu dengan ketopraknya sering pentas di TVRI. Salah satu lakon yang sempat meledak adalah Lakone Jambul Ombak Segara Kidul (Jambul Krama Yuda), cerita legenda rakyat yang dikemas secara jenaka, hingga pernah dalam semalam harus pentas dua atau tiga kali di tempat yang berbeda. Hal lain yang membuat lakon ini laris adalah figurnya, Gito Gati. Penonton jadi tidak mau beranjak.

          Saat kembarannya menjadi dukuh di Dusun Pajangan, Gito kembali berkonsentrasi pada seni pedalangan. Bukan hal yang baru bagi Gito, bahkan dari dulu seni wayang, pedalangan dan ketoprak adalah seni yang digeluti beliau sejak kecil. Tidak jarang kalau Gati sedang ndalang, Gito ngendhang atau sebaliknya.

          Ki Sugito tutup usia pada tahun 1996. Gito yang memiliki ide untuk membangun makam di Pajangan, Gito pula yang pertama kali menempati. Hal ini yang membuat anak-anak Gito sedih mengenangnya.Dengan meninggalnya Gito, PS Bayu mengalami penurunan.

          “Janji kowe temen, janji kowe tekun, kowe ora bakal kaliren.” (Asal kamu bekerja sungguh-sungguh dan tekun, kamu tidak akan kelaparan). Itulah salah satu pesan terakhir Gito, pesan yang selalu dipegang teguh oleh anak-anak keturunannya dalam menjalani kehidupan.

Oleh: Nunik Pujiyati, Arsiparis Dinas Perpustakaan & Kearsipan Kabupaten Sleman

Be the first to comment

Tinggalkan pesan