Nyi Tjondrolukito

Personal Profile Nyi Tjondrolukito

Nama lahir          : Turah

Nama tenar        : Penilaras, Podhosih, Nyi Tjondrolukito

TTL                      : Desa Pogung, Sleman, Yogyakarta, 22 april 1922

Pendidikan         : Sekolah Ongko Loro (Sekolah Rakyat)

Wafat                   : Jakarta, 3 November 1997

Album                  :

  • Uler Kembang (1980)
  • Kutut Manggung (1980)
  • Palaran Pangkur (1980)
  • Palaran Pangkur Wolak Walik
  • Lambangsari Djangkep
  • Slendro Manjura
  • Gending Nyi Tjondrolukito

Penghargaan     : namanya diabadikan menjadi nama jalan di Selatan Monumen Yogya Kembali oleh Pemerintah Kabupaten Sleman

Nyi Tjondrolukito sudah mempunyai darah seni sejak lahir karena ayahnya (Ki Pawirodimejo) adalah seorang seniman karawitan. Suami Nyi Tjondrolukito bernama Ki Tjondrolukito, beliau adalah seniman tari Keraton Jogjakarta dijaman pemerintahan Sri Sultan HB VIII

 

Latar Belakang Nyi Tjondrolukito (Nama Kecil: Turah) Menekuni Dunia Seni Suara (Sinden)

                Turah dari kecil senang bersenandung mulai dari dolanan anak, tembang mocopat dan gending. Suaranya merdunya membuat petinggi abdi dalem keraton Jogjakarta ingin mengasuh Turah agar bisa mengasah suaranya yang masih polos dan lugu. Dalam waktu singkat suara Turah mampu menarik perhatian segenap para seniman, termasuk Gusti Patih. Turah dengan cepat memahami dan menguasai berbagai ragam cengkok sehingga Gusti Patih mengganti nama Turah menjadi “Penilaras” yang artinya “keindahan dalam keselarasan”. Dua tahun mengabdi di Ndalem Kepatihan, Penilaras diijinkan latihan di Keraton dan kemampuan cengkok dalam menghayati gending makin mantap sehingga Sri Sultan HB VIII menganugerahi nama “Podhosih” yang artinya “banyak yang menyanyangi atau mengasihi”.

Selama mengabdi di Kepatihan maupun Kasultanan penilaras/podhosih banyak dilibatkan di berbagai acara, namun semenjak penilaras menikah dengan seorang bangsawan beliau mengundurkan diri dari Keraton. Dalam menyambung hidupnya beliau mengikuti perlombaan sinden, tetapi semasa pendudukan Belanda otomatis kegiatan berkesenian juga terhenti. Setelah belanda meninggalkan Jogjakarta dan kemerdekaan diproklamirkan oleh Bung Karno & Bung Hatta harapan masyarakat dapat berkecimpung di dunia seni muncul kembali.

Untuk lebih mengembangkan karirnya, Nyi Penilaras hijrah ke ibu kota mengikuti jejak suaminya. Disitulah berawal Nyi Penilaras menggunakan nama Nyi Tjondrolukito sebagai isteri Ki Tjondrolukito. Setelah di RRI Jakarta, Nyi Tjondrolukito turut meramaikan acara kesenian yang digelar di Istana Negara, dijaman di presiden pertama, Bung Karno. Dibalik kemampuan nyinden Nyi Tjondrolukito yang luar biasa dengan ragam cengkok yang khas pasti mengundang kontroversi. Namun hal itu tidak menyurutkan niat Nyi Tjondrolukito untuk berinovasi dalam menghayati dan meresapi didalam membawakan suatu tembang. Hingga sekarang cengkok Kutut Manggung, Uler Kembang, Sinom Parijotho belum ada bandingnya. Nyi Tjondrolukito wafat pada tanggal 3 November 1997 di Jakarta dan dimakamkan di Pasarean Hasto Renggo Kotagede Jogjakarta.

Be the first to comment

Tinggalkan pesan